PROSES KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
A. Teori Belajar Kognitif
Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia
yang paling penting dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri.
Dalam dunia pendidikan belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelenggaraan
proses belajar-mengajar. Dimana melalui
belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yang baru atau melalui
perubahan tingkah laku, sikap dan keterampilan.
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada cara-cara
seseorang menggunakan pemikirannya untuk belajar, mengingat, dan menggunakan
pengetahuan yang telah dipeorleh dan disimpan pikirannya secara efektif.
Psikologi kognitif menyatakan bahwa perilaku manusia
tidak ditentukan oleh stimulus yang berada diluar dirinya, melainkan oleh
faktor yang ada pada dirinya sendiri. Faktor-faktor intern ini berupa kemampuan
atau potensi yang berfungsi untuk mengenal dunia luar dan dengan pengenalan itu
manusia mampu memberikan respon terhadap stimulus. Berdasarkan pandangan
tersebut teori belajar psikologi kognitif memandang belajar sebagai proses
perfungsian kognisi, terutama unsur pikiran, dengan kata lain bahwa aktivitas
belajar pada diri manusia ditentukan pada proses internal dalam pikiran yakni
proses pengolahan informasi.
Ciri – ciri aliran belajar kognitif :
1.
Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia.
2.
Mementingkan peranan kognitif
3.
Mementingkangkan kondisi waktu sekarang
4.
Mementingkan oembentukan struktur kognitif
5.
Mengutamakan keseimbangan dalam diri manusia
6.
Mengutamakan insight (pengertian, pemahaman)
Sesuai dengan kriteria matematika maka belajar
matematika lebih cenderung termasuk ke dalam aliran belajar kognitif yang
proses dan hasilnya tidak dapat dilihat langsung dalam konteks perubahan
tingkah laku.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar
adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam
diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya
untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah
laku, keterampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.
B. Teori – Teori Belajar Kognitif
1. Teori Piaget
Jean Piaget
menyebutkan bahwa struktur kognitif sebagai Skemata (Schemas), yaitu kumpulan
dari skema-skema. Seorang individu dapat mengikat, memahami, dan memberikan respon terhadap stimulus
disebabkan karena bekerjanya skemata ini. Skemata ini berkembang secara
kronologis, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya, sehingga
individu yang lebih dewasa memliki struktur kognitif yang lebih lengkap dari
pada ketika ia masih kecil. Perkembangan skemata ini terus-menerus melalui
adaptasi dengan lingkungannya. Skemata tersebut membentuk suatu pola penalaran
tertentu dalam pikiran anak. Makin baik kualitas skema ini, makin baik pulalah
pola penalaran anak tersebut. Proses terjadinya adaptasi dari skemata yang
telah terbentuk dengan stimulus baru dilakukan dengan dua cara, yaitua similasi
dan akomodasi. Asimilasi adalah pengintegrasian stimulus baru kedalam skemata
yang telah terbentuk secara langsung. Akomodasi adalah proses pengintegrasian
stimulus baru kedalam skema yang telah terbentuk secara tidak lansung.
Tahap perkembangan kognitif:
·
Tahap Sensori Motor (sejak lahir sampai dengan 2 tahun)
Bagi anak yang berada pada tahap ini, pengalaman
diperoleh melalui perbuatan fisik (gerakan anggota tubuh) dan
sensori(koordinasi alat indra).
·
Tahap Pra Operasi (2 tahun sampai dengan 7 tahun)
Ini merupakan tahap persiapan untuk pengorganisasian
operasi konkrit. Operasi konkrit adalah berupa tindakan tindakan kognitif
seperti mengklasifikasikan sekelompok objek, menata letak benda berdasarkan
urutan tertentu dan membilang.
·
Tahap Operasi Konkrit(7 tahun sampai dengan 11 tahun)
Umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami konsep
kekekalan, kemampuan mengklasifikasi, mampu memandang suatu objek dari sudut
pandang yang berbeda secara objektif, dan mampu berfikir reversible.
·
Tahap Operasi Formal (11 tahun dan seterusnya)
Tahap ini merupakan tahap akhir dari perkembangan
kognitif secara kualitas. Anak pada tahap ini sudah mampu malakukan penalaran
dengan menggunakan hal-hal yang abstrak. Anak mampu bernalar tanpa harus
berhadapan dengan objek atau peristiwanya langsung, dengan hanya menggunakan
simbol-simbol, ide-ide, abstraksi dan generalisasi.
Kaitan antara teori belajar Piaget dengan penggunaan
media pembelajaran matematika ini adalah pada tahap operasi konkrit dimana
siswa tidak akan bisa memahami konsep tanpa benda-benda konkrit.
2. Teori Bruner
Jerome s. Bruner (1915) adalah
seorang ahli psikologi belajar kognitif. Pendekatannya tentang psikologi adalah
eklektik. Penelitiannya yang demikian banyak itu meliputi persepsi manusia,
motivasi, belajar, dan berfikir. Dalam mempelajari manusia, ia menganggap
manusia pemproses, pemikir, dan pencipta informasi (dalam wilis Dahar,
1988;118) Jerome Brunner
menyatakan bahwa belajar matematika akan lebih berhasil jika proses pengajaran
anak diarahkan pada konsep-konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam
pokok bahasan yang diajarkan, disamping hubungan yang terkait antara
konsep-konsep dan struktur-struktur tersebut. Bruner menyarankan keaktifan anak
dalam proses belajar secara penuh agar anak dapat mengenal konsep dan struktur
yang tercakup dalam bahan yang sedag dibicarakan, sehingga anak akan memahami
materi yang harus dikuasainya itu.
Dalam proses pembelajaran hendaknya siswa diberi
kesempatan untuk memanipulasi benda-benda dengan menggunakan media pembelajaran
matematika. Melalui penggunaan media pembelajaran matematika yang ada, siswa
akan melihat langsung keteraturan dan pola strukur yang terdapat dalam
penggunaan media pembelajaran matematika yang diperhatikannya.
Menurut Bruner, jika seseorang
memmpelajari pengetahuan (Misalnya mempelajari suaatu konsep matamatika),
pengetahuan itu perluh dipelajari dalam tahap-tahap tertentu, agar pengetahuan
itu dapat diinteralisasi dalam fikiran(struktur kognitif) orang tersebut.
Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses
belajar terjadi secara optimal) jika pengetahuan yang dipelajari itu dalam 3
tahap, yang macam dan urutannya adalah sebagai berikut (dalam
Suwarsono,2002;26):
1. Tahap Pengaktif
Suatu tahap pembelajaran sutu pengetahuan dimana
pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan menkongkret atau
menggunakan situasi yang nyata.
2. Tahap Ikonik
Suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan dimana
pengetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual
(visual imagery), gamabr, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan konkret
yang terdapat pada tahap penaktif tersebut diatas
3. Tahap
Simbolik
Suatu tahap
pembelajaran dimana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk
simbol-simbol abstrak (abstract symbols yaitu symbol-simbol arbiter yang
dipakai berdasarkan kesepakatan
orang-orang dalam bidang bersangkutan ), baik simbol-simbol
verbal (Misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat) lambing-lambang matematika
maupun lambing-lambang abstrak lainnya
Dalil-dalil yang didapatkan Bruner setelah mengadakan pengamatan ke sekolah-sekolah:
a. Dalil Penyusunan (construction the orem)
Dalil ini menyatakan bahwa jika anak ingin mempunyai kemampuan
menguasai konsep, teorema, definisi dan semacamnya, anak harus dilatih untuk
melakukan penyusunan representasinya. Ini berarti, jika anak aktif dan terlibat
dalam kegiatan mempelajari konsep yang dilakukan dengan jalan memperlihatkan
representasi tersebut, maka anak akan lebih memahaminya.
b. Dalil Notasi (notation the orem)
Notasi memiliki peranan penting dalam penyajian
konsep. Penggunaan notasi dalam menyatakan sebuah konsep tertentu harus
disesuaikan dengan tahap perkembangan mental anak. Penyajiannya dilakukan
dengan pendekatan spiral, dimana setiap ideide matematika disajikan secara
sistematis dengan menggunakan notasi-notasi yang bertingkat.
c. Dalil Kekontrasan dan Keanekaragaman (contrasand variation the orem)
Pengontrasan dan keanekaragaman sangat penting
dalam melakukan pengubahan konsep
dipahami dengan mendalam, diperlukan contoh-contoh yang banyak, sehingga anak
mampu mengetahui karakteristik konsep tersebut.
d. Dalil Pengaitan (connectivity the orem)
Dalam matematika itu satu konsep dengan konsep lainnya
terdapat hubungan erat, bukan saja dari segi isi, namun juga dari segi
rumus-rumus yang digunakan.Materi yang satu merupakan prasyarat bagi yang
lainnya atau konsep yang satudi perlukan untuk menjelaskan konsep lainnya.
4. Teori Gestalt
Tokoh aliran ini adalah John Dewey. Ia mengemukakan
bahwa pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan oleh guru
harus memperhatikan hal-hal berikut ini:
a. Penyajian konsep harus lebih mengutamakan pengertian,
b. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar harus
memperhatikan kesiapan intelektual siswa
c. Mengatur suasana kelas agar siswa siap belajar.
5. Teori Brownell
W.Brownell mengemukakan bahwa belajar matematika harus
merupakan belajar bermakna dan belajar pengertian. Dia juga menegaskan bahwa
belajar pada hakikatnya merupakan suatu proses yang bermakna.
6. Teori Dienes
Zoltan P.Dienes adalah seorang matematikawan yang
memfokuskan perhatiannya pada cara pengajaran. Dienes menekankan bahwa dalam
pembelajaran sebaiknya dikembangkan suatu proses pembelajaran yang menarik
sehingga bisa meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran matematika. Dienes
mengungkapkan bahwa dalam proses pembelajaran sangatlah penting untuk
menyajikan konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dalam bentuk yang
konkrit. Hal ini dilakukan agar konsep dan prinsip tersebut dapat dipahami
dengan baik oleh siswa. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek
dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam
pengajaran matematika.
7. Teori Van Hiele
Dalam pengajaran geometri terdapat teori belajar yang
dikemukakan oleh Van Hiele (1954), yang menguraikan tahap-tahap perkembangan
mental anak dalam geometri. Van Hiele adalah seorang guru bangsa Belanda yang
mengadakan penelitian dalam pengajaran geometri. Menurut Van Hiele ada tiga
unsur dalam pengajaran matematika yaitu waktu, materi pengajaran dan metode
pengajaran, jika ketiganya ditata secara terpadu maka akan terjadi peningkatan
kemampuan berfikir anak kepada tingkatan berfikir lebih tinggi.
Tahap belajar anak dalam belajar geometri:
·
Tahap pengenalan (visualisasi)
Anak mulai belajar mengenai suatu bentuk geometri
secara keseluruhan, namun belum mampu mengetahui adanya sifat-sifat dari bentuk
geometri yang dilihatnya itu.
·
Tahap analisis
Anak sudah mulai mengenal sifat-sifat yang dimiliki
dan keteraturan-keteraturan yang terdapat pada benda geometri yang diamatinya.
·
Tahap pengurutan
Anak sudah mampu menarik kesimpulan atau disebut
berfikir deduktif walaupun belum berkembang secara penuh. Anak juga sudah mampu
mengurutkan keteraturan-keteraturan yang sudah dikenali sebelumnya.
·
Tahap deduksi
Anak sudah mampu menarik kesimpulan secara deduktif.
Anak sudah mulai memahami dalil atau menggunakan aksioma dan postulat yang
digunakan dalam pembuktian.
·
Tahap akurasi
Anak sudah mulai menyadari pentingnya ketepatan dari
prinsip-prinsip dasar yang melandasi pembuktian.
Hubungan aliran kognitif dengan pembelajaran
Psikologi kognitif menyatakan bahwa perilaku manusia
tidak ditentukan oleh stimulus yang berada dari luar dirinya , melainkan oleh
faktor yang ada pada dirinya sendiri. Faktor-faktor internal itu berupa
kemampuan atau potensi yang berfungsi untuk mengenal dunia luar, dan dengan
pengalaman itu manusia mampu memberikan respon terhadap stimulus. Berdasarkan
pandangan itu, teori psikologi kognitif memandang belajar sebagai proses
pemfungsian unsur-unsur kognisi, terutama unsure pikiran, untuk dapat mengenal
dan memahami stimulus yang datang dari luar. Dengan kata
lain, aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada proses internal dalam
berfikir, yakni proses pengelolaan informasi.
Kegiatan pengelolaan informasi yang berlangsung di
dalam kognisi itu akan menentukan perubahan perilaku seseorang. Bukan
sebaliknya jumlah informasi atau stimulus yang mengubah perilaku. Demikian pula
kinerja seseorang yang diperoleh dari hasil belajar tidak tergantung pada jenis
dan cara perberian stimulus, melainkan lebih ditentukan oleh sejauh mana
sesaeorang mampu mengelola informasi sehingga dapat disimpan dan digunakan
untuk merespon stimulus yang berada di sekelilingnya. Oleh karena itu teori
belajar kognitif menekankan pada cara-cara seseorang menggunakan pikirannya
untuk belajar, mengingat dan menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan
disimpan didalam didalam pikirannya secara efektif.
Teori belajar kognitif menekankan pada kemampuan siswa
dan menganggap bahwa siswa sebagai subjek didik. Jadi siswa harus aktif dalam
proses belajar mengajar, Fungsi guru adalah menyediakan tangga pemahaman yang
puncaknya adalah tangga pemahaman paking tinggi, dan siswa harus mencari cara
sendiri agar dapat menaiki tangga tersebut. Jadi peran guru adalah:
a)
Memperlancar proses
pangkonstruksian pengetahuan dengan cara membuat informasi secara bermakna dan
relevan dengan siswa,
b)
Memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mengungkapkan atau menerapkan gagasannya sendiri , dan
c)
Membimbing siswa untuk
menyadari dan secara sadar menggunakan strategi belajar sendiri.
Aplikasi Teori Belajar Kognitif Dalam Pembelajaran
Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan
sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi,
reorganisasi perseptual, dan proses internal. Dalam merumuskan tujuan
pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran tidak lagi
mekanistik sebagaimana pada teori behavioristik namun dengan memperhitungkan
kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar agar belajar
lebih bermakna bagi siswa.
Karakteristik dari proses belajar ini adalah:
a.
Belajar merupakan proses pembentukan makna berdasarkan pengetahuan yang
sudah dimiliki melalui interaksi secara langsung dengan obyek.
b.
Belajar merupakan proses pengembangan pemahaman dengan membuat pemahaman
baru.
c.
Agar terjadi interaksi antara anak dan obyek pengetahuan, maka guru harus
menyesuaikan obyek dengan tingkat pengetahuan yang
sudah dimiliki anak.
d.
Proses belajar harus dihadirkan secara autentik dan alami. Anak dihadirkan
dalam situasi obyek sesungguhnya dan harus sesuai dengan perkembangan anak.
e.
Guru mendorong dan menerima otonomi dan insiatif anak.
f.
Memberi kegiatan yang menumbuhkan rasa keingintahuan siswa dan membantu
mereka untuk mengekspresikan ide dan mengkomunikasikannya dengan orang lain.
g.
Guru menyusun tugas dengan menggunakan terminologi kognitif yaitu meminta
anak untuk mengklasifikasi, menganalisa, memprediksi.
h.
Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk merespon proses pembelajaran.
i.
Guru memberi kesempatan berpikir setelah memberi pertanyaan.
PENERAPAN
TEORI BELAJAR KOGNITIF
A.
Belajar Bermakna David P. Ausubel
Teori
belajar Ausubel menitikberatkan pada
bagaimana seseorang memperoleh pengetahuannya. Menurut Ausubel terdapat dua jenis belajar yaitu belajar hafalan
(rote-learning) dan belajar bermakna (meaningful-learning).
aa) Belajar Hapalan
Materi
dalam pelajaran matematika bukanlah pengetahuan yang terpisah-pisah namun
merupakan satu kesatuan, sehingga pengetahuan yang satu dapat berkait dengan
pengetahuan yang lain. Seorang anak tidak akan mengerti penjumlahan dua
bilangan jika ia tidak tahu arti dari “1” maupun “2”. Ia harus tahu bahwa “1”
menunjuk pada banyaknya sesuatu yang tunggal seperti banyaknya kepala, mulut, lidah dan
seterusnya; sedangkan “2” menunjuk pada
banyaknya sesuatu yang berpasangan seperti banyaknya mata, telinga,
kaki, … dan seterusnya. Sering terjadi, anak kecil salah menghitung sesuatu.
Tangannya masih ada di batu ke-4 namun
ia sudah mengucapkan “lima” atau malah “enam”. Kesalahan kecil seperti ini akan berakibat pada kesalahan menjumlah
dua bilangan. Hal yang lebih parah akan terjadi jika ia masih sering
meloncat-loncat di saat membilang dari satu sampai sepuluh.
bb) Belajar Bermakna
Agar
proses mengingat bilangan kedua dapat bermakna, maka proses mengingat bilangan
kedua (yang baru) harus dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki, yaitu
tentang 17-08-1945 akan tetapi dengan membalik urutan penulisannya menjadi
5491-80-71.Untuk bilangan pertama, yaitu 89.107.145. Bilangan ini hanya akan
bermakna jika bilangan itu dapat dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada di
dalam pikiran kita. Contohnya jika bilangan itu berkait dengan nomor telepon
atau nomor lain yang dapat kita kaitkan. Tugas guru adalah membantu memfasilitasi siswa sehingga
bilangan pertama tersebut dapat dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah
dimilikinya. Jika seorang siswa tidak dapat mengaitkan antara pengetahuan yang
baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa, maka proses pembelajarannya
disebut dengan belajar yang tidak bermakna (rote learning).
Itulah inti dari belajar bermakna (meaningful
learning) yang telah digagas David P Ausubel.
Di samping itu, seorang guru dituntut untuk mengecek, mengingatkan
kembali ataupun memperbaiki pengetahuan prasyarat siswanya sebelum ia memulai
membahas topik baru, sehingga pengetahuan yang baru tersebut dapat berkait
dengan pengetahuan yang lama yang lebih dikenal sebagai belajar bermakna
tersebut.
2.
Teori Belajar Bruner
Menurut
Bruner, ada tiga tahap belajar, yaitu enaktif, ikonik dan simbolik.Berbeda dengan
Teori Belajar Piaget yang telah membagi perkembangan kognitif seseorang atas
empat tahap berdasar umurnya, maka Bruner membagi penyajian proses pembelajaran
dalam tiga tahap, yaitu tahap enaktif, ikonik dan simbolik.
Bruner memusatkan perhatian pada masalah
apa yang dilakukan manusia terhadap informasi diterimanya dan apa yang
dilakukan setelah menerima informasi tersebut untuk pemahaman dirinya.
a). Tiga Tahap Proses Belajar
Teori
Bruner tentang tiga tahap proses belajar berkait dengan tiga tahap yang harus
dilalui siswa agar proses pembelajarannya menjadi optimal, sehingga akan
terjadi internalisasi pada diri siswa, yaitu suatu keadaan dimana pengalaman
yang baru dapat menyatu ke dalam struktur kognitif mereka. Ketiga tahap pada
proses belajar tersebut adalah:
1.
Tahap Enaktif.
Pada
tahap ini, pembelajaran yang dilakukan dengan cara memanipulasi obyek secara
aktif. Contohnya, ketika akan membahas penjumlahan dan pengurangan di awal
pembelajaran, siswa dapat belajar dengan menggunakan batu, kelereng, buah,
lidi, atau dapat juga memanfaatkan beberapa model atau alat peraga lainnya.
Ketika belajar penjumlahan dua bilangan bulat, para siswa dapat saja memulai
proses pembelajarannya dengan menggunakan beberapa benda nyata sebagai
“jembatan” atau dengan menggunakan obyek
langsung.
2.Tahap
Ikonik
Tahap
ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan
itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imaginery),
gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan kongkret atau situasi
kongkret yang terdapat pada tahap enaktif tersebut di atas (butir a). Bahasa
menjadi lebih penting sebagai suatu media berpikir. Kemudian seseorang mencapai
masa transisi dan menggunakan penyajian
ikonik yang didasarkan pada pengindraan kepenyajian simbolik yang didasarkan
pada berpikir abstrak.
3.Tahap
Simbolik
Dalam tahap ini
bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi simbul-simbul atau
lambang-lambang objek tertentu. Anak tidak lagi terikat dengan objek-objek
seperti pada tahap sebelumnya. Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan
notasi tanpa ketergantungan terhadap objek riil. Pada tahap simbolik ini,
pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (abstract
symbols), yaitu simbol-simbol arbiter yang
dipakai
berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan, baik
simbol-simbol verbal (misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat),
lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak yang lain.
b). Empat Teorema Belajar dan Mengajar
Meskipun
pepatah Cina menyatakan “Satu gambar sama nilainya dengan seribu kata”, namun
menurut Bruner, pembelajaran sebaiknya dimulai dengan menggunakan benda nyata
lebih dahulu. Karenanya, seorang guru ketika mengajar matematika hendaknya
menggunakan model atau benda nyata untuk topik-topik tertentu yang dapat
membantu pemahaman siswanya. Bruner mengembangkan empat teori yang terkait dengan asas peragaan,
yakni:
1. Teorema konstruksi menyatakan bahwa siswa
lebih mudah memahami ide-ide abstrak dengan menggunakan peragaan kongkret
(enactive) dilanjutkan ke tahap semi kongkret (iconic) dan diakhiri dengan
tahap abstrak (symbolic). Dengan menggunakan tiga tahap tersebut, siswa dapat
mengkonstruksi suatu representasi dari konsep atau prinsip yang sedang
dipelajari.
2. Teorema notasi menyatakan bahwa simbol-simbol
abstrak harus dikenalkan secara bertahap, sesuai dengan tingkat perkembangan
kognitifnya. Sebagai contoh:
1. Notasi 3×2 dapat dikaitkan dengan 3×2 tablet.
2. Soal seperti ... + 4 = 7 dapat diartikan sebagai menentukan bilangan yang kalau
ditambah 4 akan menghasilkan 7. Notasi yang baru adalah 7 − 4 = ... .
3. Teorema kekontrasan atau variasi menyatakan bahwa konsep matematika
dikembangkan melalui beberapa contoh dan bukan contoh seperti yang ditunjukkan
gambar di bawah ini tentang contoh dan bukan contoh pada konsep trapesium.
4. Teorema konektivitas menyatakan bahwa konsep
tertentu harus dikaitkan dengan konsep-konsep lain yang relevan. Sebagai
contoh, perkalian dikaitkan dengan luas persegi panjang dan penguadratan
dikaitkan dengan luas persegi. Penarikan akar pangkat dua dikaitkan dengan
menentukan panjang sisi suatu persegi jika luasnya diketahui.
Lebih
lanjut, berbagai jenis kegiatan dalam pembelajaran yang menerapkan teorema-
teorema Bruner dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti yang
dikemukakan oleh Edgar Dale dalam bukunya “Audio Visual Methods in Teaching”
sebagaimana dikutip Heinich, Molenda, dan Russell (1985:4) sebagai berikut,
1. Pengalaman langsung. Artinya, siswa diminta
untuk mengalami, berbuat sendiri dan mengolah, serta merenungkan apa yang
dikerjakan.
2. Pengalaman yang diatur. Sebagai contoh dalam
membicarakan sesuatu benda, jika benda tersebut terlalu besar atau kecil, atau
tidak dapat dihadirkan di kelas maka benda tersebut dapat diragakan dengan
model. Contohnya: peta, gambar benda-benda yang tidak mungkin dihadirkan di
kelas, model kubus, dan kerangka balok,
3. Dramatisasi. Misalnya: permainan peran,
sandiwara boneka yang bisa digerakkan ke kanan atau ke kiri pada garis
bilangan.
4. Demonstrasi. Biasanya dilakukan dengan
menggunakan alat-alat bantu seperti papan tulis, papan flanel, OHP dan program komputer. Banyak topik dalam
pembelajaran matematika di SD yang dapat diajarkan melalui demonstrasi,
misalnya: penjumlahan, pengurangan, dan pecahan.
5. Karyawisata. Kegiatan ini sebenarnya sangat baik
untuk menjadikan matematika sebagai atau menjadi pelajaran yang disenangi siswa. Kegiatan yang diprogramkan
dengan melibatkan penerapan konsep matematika seperti mengukur tinggi objek
secara tidak langsung, mengukur lebar sungai, mendata kecenderungan kejadian
dan realitas yang ada di lingkungan merupakan kegiatan yang sangat menarik dan
sangat bermakna bagi siswa serta bagi
daya tarik pelajaran matematika di kalangan siswa.
6. Pameran. Pameran adalah usaha menyajikan
berbagai bentuk model-model kongkret yang dapat digunakan untuk membantu
memahami konsep matematika dengan cara yang menarik. Berbagai bentuk permainan
matematika ternyata dapat menyedot perhatian siswa untuk mencobanya, sehingga
jenis kegiatan ini juga cukup bermakna untuk diterapkan dalam pembelajaran
matematika.
7.
Televisi sebagai alat peragaan. Program pendidikan matematika yang disiarkan
melalui media TV juga merupakan alternatif yang sangat baik untuk pembelajaran
matematika.
8. Film sebagai alat peraga
9. Gambar sebagai alat peraga
Dengan
demikian jelaslah bahwa asas peragaan dalam bentuk enaktif dan ikonik selama
pembelajaran matematika adalah sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan
daya tarik siswa dalam mempelajari matematika sebelum mereka menggunakan
bentuk-bentuk simbolik.
pertanyaan:
dari pemaparan diatas, menurut kalian apakah perkembangan jaman saat ini sangat berpengaruh dengan kemampuan kognitif peserta didik atau tidak? jika sangat berpengaruh menurut kalian lebih banyak dampak negatif atau positif kah perkembangan teknologi terhadap perkembangan kognitif anak?

Perkembangan zaman sangat lah perpengaruh terhadap kemampuan kognitif peserta didik. Dikarenakan perkembangan zaman dan kemajuan ilmu dan teknologi membuat siswa lebih mudah untuk mengkses pengetahuan. Law kita berbicara tentang dampak positif dan negtif nya tentu ada law dampak positifnya siswa bisa belajar sendiri dan dampak negatifnya dengan kemajuan teknologi siswa malas mikir karena mereka dak usah repoy repot dkarenakan semuanya tersedia.
BalasHapusterimakasih kak net atas komentarnya, kalau menurut kakak selain memudahkan belajar ada ga sih dampak positif yang lainnya?
HapusPerkembangan zaman sangat lah perpengaruh terhadap kemampuan kognitif peserta didik. Dikarenakan perkembangan zaman dan kemajuan ilmu dan teknologi membuat siswa lebih mudah untuk mengkses pengetahuan. Law kita berbicara tentang dampak positif dan negtif nya tentu ada law dampak positifnya siswa bisa belajar sendiri dan dampak negatifnya dengan kemajuan teknologi siswa malas mikir karena mereka dak usah repoy repot dkarenakan semuanya tersedia.
BalasHapusMenurut saya perkembangan zaman sangat mempengaruhi kognitif siswa, pengaruh positif atau negatif nya tergantung pada individu masing2,,, dizaman sekarang teknologi serba canggih, bagi siswa yg pandai memanfaatkan teknologi seperti android, justru bisa meningkatkan kognitif mereka, bagi siswa yg salah memanfaatkan teknologi justru menjadikan mereka terlena asik bermain game saja, dan menjadikan kognitif mereka kearah kurang baik.
BalasHapussaya setuju dnegna pendpat kakak2 diatas, tentu saja dengna perkembangan zaman sangat mempengaruhi kognitif siswa, untuk pengaruh positif dan negatif tentu bergantung dengan kepribadian setiap siswa, untuk dampak positif bisa saja siswa mencari materi pelajaran dari web atau menggunakan aplikasi beljar seperti edmodo dll. untuk dampak negatifmungkin dengan perkembangan teknologi sekarang banyak permainan game online yang ada sehingga banyak mempengaruhi waktu produktif siswa. sehingga dalam hal ini ada baiknya bimbingan orang tua atau wali dari siswa
BalasHapusperkembangan zaman sekarang memiliki dampak pengaruh yang besar bagi proses kognitif anak, baik dalam sisi negatif maupun positif. jadi sebagai guru atau orang tua sebaiknya lebih mengarahkan perkembangan zaman sekarang terhadap hal-hal yang positif
BalasHapusMenurut saya, untuk dampak positif bisa saja siswa mencari materi pelajaran dari web atau menggunakan aplikasi beljar seperti edmodo dll. untuk dampak negatifmungkin dengan perkembangan teknologi sekarang banyak permainan game online yang ada sehingga banyak mempengaruhi waktu produktif siswa. sehingga dalam hal ini ada baiknya bimbingan orang tua atau wali dari siswa
BalasHapusMenurut saya, untuk dampak positif bisa saja siswa mencari materi pelajaran dari web atau menggunakan aplikasi beljar seperti edmodo dll. untuk dampak negatifmungkin dengan perkembangan teknologi sekarang banyak permainan game online yang ada sehingga banyak mempengaruhi waktu produktif siswa. sehingga dalam hal ini ada baiknya bimbingan orang tua atau wali dari siswa
BalasHapusperkembangan zaman sangat berpengaruh pada kognitif siswa, dimana pengetahuan akan semakin berkembang mengikuti zaman, kalau ditanya bagaimana perkembangan teknologi berdampak ke negatif atau positif tergantung dengan pemanfaatan teknologi tersebut
BalasHapusperkembangan zaman sangat mempengaruhi kognitif siswa, penggunakan teknologi yang canggih di era sekarang ini dapat berdampak positif atau negatif tetapi tergantung pada individu masing dalam penggunaan nya,
BalasHapustekhnologi mempunyai dampak positif, namun sikap siswa yang terkadang menjadikan teknologi menghasilkan dampak negatif terhadap pembelajaran
BalasHapus