PENILAIAN KEMAMPUAN PSIKOMOTORIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Pengertian Ranah Penilaian Psikomotorik, Ciri-ciri, dan Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Psikomotorik
Pengertian Ranah Penilaian Psikomotor
Ranah psikomotor merupakan ranah yang
berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah
seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah
ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat,
melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor
dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar
psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan
bertindak individu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan
kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil
belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk
kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Hasi belajar kognitif dan
hasil belajar afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila
peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai
dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektif
dengan materi kedisiplinan menurut agama Islam sebagaimana telah
dikemukakan pada pembiraan terdahulu, maka wujud nyata dari hasil
psikomotor yang merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif
afektif itu adalah; (1) peserta didik bertanya kepada guru pendidikan
agama Islam tentang contoh-contoh kedisiplinan yang telah ditunjukkan
oleh Rosulullah SAW, para sahabat, para ulama dan lain-lain; (2) peseta
didik mencari dan membaca buku-buku, majalah-majalah atau brosur-brosur,
surat kabar dan lain-lain yang membahas tentang kedisiplinan; (3)
peserta didik dapat memberikan penejelasan kepada teman-teman sekelasnya
di sekolah, atau kepada adik-adiknya di rumah atau kepada anggota
masyarakat lainnya, tentang kedisiplinan diterapkan, baik di sekolah, di
rumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat; (4) peserta didik
menganjurkan kepada teman-teman sekolah atau adik-adiknya, agar berlaku
disiplin baik di sekolah, di rumah maupun di tengah-tengah kehidupan
masyarakat; (5) peserta didik dapat memberikan contoh-contoh
kedisiplinan di sekolah, seperti datang ke sekolah sebelum pelajaran di
mulai, tertib dalam mengenakan seragam sekolah, tertib dan tenag dalam
mengikuti pelajaran, di siplin dalam mengikuti tata tertib yang telah
ditentukan oleh sekolah, dan lain-lain; (6) peserta didik dapat
memberikan contoh kedisiplinan di rumah, seperti disiplin dalam belajar,
disiplin dalam mennjalannkan ibadah shalat, ibadah puasa, di siplin
dalam menjaga kebersihan rumah, pekarangan, saluran air, dan lain-lain;
(7) peserta didik dapat memberikan contoh kedisiplinan di tengah-tengah
kehidupan masyarakat, seperti menaati rambu-rambu lalu lintas, tidak
kebut-kebutan, dengan suka rela mau antri waktu membeli karcis, dan
lain-lain, dan (8) peserta didik mengamalkan dengan konsekuen
kedisiplinan dalam belajar, kedisiplinan dalam beribadah, kedisiplinan
dalam menaati peraturan lalu lintas, dan sebagainya.
*Ciri-ciri Ranah Penilaian Psikomotor
Ranah psikomotor
berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan
manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Ranah psikomotor
adalah ranah yang berhubungan aktivitas fisik, misalnya; menulis,
memukul, melompat dan lain sebagainya.
Tabel Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek Psikomotorik
| Tingkat | Deskripsi |
| I. Gerakan Refleks | Arti: gerakan refleks adalah basis semua perilaku bergerak, respons terhadap stimulus tanpa sadar.
Misalnya:melompat,menunduk,berjalan,menggerakkan leher dan kepala, menggenggam, memegang
Contoh kegiatan belajar:
- mengupas mangga dengan pisau
- memotong dahan bunga
- menampilkan ekspresi yang berbeda
- meniru gerakan polisi lalulintas, juru parkir
- meniru gerakan daun berbagai tumbuhan yang diterpa angin
|
| II Gerakan dasar (basic fundamental movements) | Arti: gerakan ini muncul tanpa latihan tapi dapat Diperhalus melalui praktik gerakan ini terpola dan dapat ditebak
Contoh kegiatan belajar:
|
| III. Gerakan Persepsi
( Perceptual obilities)
| Arti : Gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual
Contoh kegiatan belajar:
¨ menangkap bola, mendrible bola
¨ melompat dari satu petak ke petak lain dengan 1 kali sambil menjaga keseimbangan
¨ memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang ukurannya bervariasi
¨ membaca melihat terbangnya bola pingpong
¨ melihat gerakan pendulun menggambar simbol geometri
¨ menulis alfabet
¨ mengulangi pola gerak tarian
¨ memukul bola tenis, pingpong
¨ membedakan bunyi beragam alat musik
¨ membedakan suara berbagai binatang
¨ mengulangi ritme lagu yang pernah didengar
¨ membedakan berbagai tekstur dengan meraba
|
| IV. Gerakan Kemampuan fisik (Psycal abilities) | Arti: gerak lebih efisien, berkembang melalui kematangan dan belajar
Contoh kegiatan belajar:
menggerakkan otot/sekelompok otot selama waktu tertentu
berlari jauh
mengangkat beban
menarik-mendorong
melakukan push-up
kegiatan memperkuat lengan, kaki dan perut
menari
melakukan senam
melakukan gerakan pesenam, pemain biola, pemain bola
|
| V. gerakan terampil (Skilled movements) | Arti: dapat mengontrol berbagai tingkat gerak – terampil, tangkas, cekatan melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks)
Contoh kegiatan belajar:
|
| VI. Gerakan indah dan kreatif
(Non-discursive communicatio)
| Arti: mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan
- gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah
- gerakan kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran
Contoh kegiatan belajar:
v kerja seni yang bermutu (membuat patung, melukis, menari baletr
v melakukan senam tingkat tinggi
v bermain drama (acting)
v keterampilan olahraga tingkat tinggi
|
*Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Psikomotor
Ada beberapa ahli yang menjelaskan
cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980) menjelaskan bahwa
hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung
dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran
praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan
jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan,
keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai
dan kelak dalam lingkungan kerjanya. Sementara itu Leighbody (1968)
berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1)
kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis
suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan
mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5)
keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah
ditentukan.
Dari penjelasan di atas dapat
dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau
keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian
dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta
didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara
mengetes peserta didik.
Penilaian psikomotorik dapat
dilakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan. Observasi
sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku
individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati,
baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan
kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses
belajar atau psikomotorik. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika
praktik, kegiatan diskusi peserta didik, partisipasi peserta didik dalam
simulasi, dan penggunaan alins ketika belajar.
Observasi dilakukan pada saat
proses kegiatan itu berlangsung. Pengamat terlebih dahulu harus
menetapkan kisi-kisi tingkah laku apa yang hendak diobservasinya, lalu
dibuat pedoman agar memudahkan dalam pengisian observasi. Pengisian
hasil observasi dalam pedoman yang dibuat sebenarnya bisa diisi secara
bebas dalam bentuk uraian mengenai tingkah laku yang tampak untuk
diobservasi, bisa pula dalam bentuk memberi tanda cek (√) pada kolom
jawaban hasil observasi.
Tes untuk mengukur ranah
psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja
(performance) yang telah dikuasai oleh peserta didik. Tes tersebut
dapat berupa tes paper and pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan
tes unjuk kerja.
1) Tes simulasi
Kegiatan psikomotorik yang
dilakukan melalui tes ini, jika tidak ada alat yang
sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta
didik, sehingga peserta didik dapat dinilai tentang penguasaan
keterampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau berperaga seolah-olah
menggunakan suatu alat yang sebenarnya.
2) Tes unjuk kerja (work sample)
Kegiatan psikomotorik yang
dilakukan melalui tes ini, dilakukan dengan sesungguhnya dan tujuannya
untuk mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai/terampil
menggunakan alat tersebut. Misalnya dalam melakukan praktik pengaturan
lalu lintas lalu lintas di lapangan yang sebenarnya
Tes simulasi dan tes unjuk
kerja, semuanya dapat diperoleh dengan observasi langsung ketika peserta
didik melakukan kegiatan pembelajaran. Lembar observasi dapat
menggunakan daftar cek (check-list) ataupun skala penilaian (rating
scale). Psikomotorik yang diukur dapat menggunakan alat ukur berupa
skala penilaian terentang dari sangat baik, baik, kurang, kurang, dan
tidak baik.
Dengan kata lain, kegiatan
belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah praktik
di aula/lapangan dan praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan
praktik itu juga ada ranah kognitif dan afektifnya, namun hanya sedikit
bila dibandingkan dengan ranah psikomotor. Pengukuran hasil belajar
ranah psikomotor menggunakan tes unjuk kerja atau lembar tugas.
Contohnya kemampuan psikomotor
yang dibina dalam belajar matematika misalnya berkaitan dengan kemampuan
mengukur (dengan satuan tertentu, baik satuan baku maupun tidak baku),
menggambar bentuk-bentuk geometri (bangun datar, bangun ruang, garis,
sudut,dll) atau tanpa alat. Contoh lainnya, siswa dibina kompetensinya
menyangkut kemampuan melukis jaring-jaring kubus. Kemampuan dalam
melukis jaring-jaring kubus secara psikomotor dapat dilihat dari gerak
tangan siswa dalam menggunakan peralatan (jangka dan penggaris) saat
melukis. Secara teknis penilaian ranah psikomotor dapat dilakukan dengan
pengamatan (perlu lembar pengamatan) dan tes perbuatan.
Dalam ranah psikomotorik yang
diukur meliputi (1) gerak refleks, (2) gerak dasar fundamen, (3)
keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual,
diskriminasi auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual
yang terkoordinasi, (4) keterampilan fisik, (5) gerakan terampil, (6)
komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan
ekspresif, gerakan interprestatif.
Lembar observasi
Beri Tanda (√)
| Nama Siswa | Mengerjakan Tugas (On-Task) | Tidak Mengerjakan Tugas (Off-Task) | Catatan Guru |
| Damar | |||
| Ayu | |||
| Dst….. |
Tabel Instrumen (alat) Asesmen Kinerja (unjuk kerja) Berpidato dengan numerical Rating Scale
| Nama : …………………………………………….
Kelas : …………………………………………….
| |||||
| Petunjuk:
Berilah skor untuk setiap aspek kinerja yang sesuai dengan ketentuan berikut:
(4) bila aspek tersebut dilakukan dengan benar dan cepat
(3) bila aspek tersebut dilakaukan dengan benar tapi lama
(2) bila aspek tersebut dilakukan selesai tetapi salah
(1) bila dilakukan tapi tidak selesai
( 0 = tidak ada usaha)
| |||||
| No | Aspek yang dinilai | Skor | |||
| 4 | 3 | 2 | 1 | ||
| 1. | Berdiri tegak menghadap penonton | ||||
| 2. | Mengubah ekspresi wjah sesuai dengan pernyataan | ||||
| 3. | Berbicara dengan kata-kata yang jelas | ||||
| 4. | Tidak mengulang-ulang pernyataan | ||||
| 5. | Berbicara cukup keras untuk didengar penonton | ||||
Komentar
Posting Komentar