penilaian autentik dalam pembelajaran matematika
PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Apa
Itu Penilaian Otentik?
Menurut
Jon Mueller (2006), penilaian otentik merupakan suatu bentuk penilaian yang
para siswanya diminta untuk menampilkan tugas pada situasi yang sesungguhnya
yang mendemonstrasikan penerapan keterampilan dan pengetahuan esensial yang
bermakna. Oleh karena itu
penilaian otentik lebih sering dinyatakan sebagai penilaian berbasis kinerja (performance
based assessment) atau penilaian kinerja (performance assessment).
Meyer
(1992) dan Marzano (1993) membedakan penggunaan kedua istilah tersebut, karena
penilaian otentik harus dilakukan pada situasi yang nyata (pada proses
belajar), sedangkan penilaian kinerja bisa saja dilakukan pada konteks yang
diciptakan sengaja untuk mengukur keterampilan tersebut (misalnya: setelah
proses belajar).
O’malley
dan Pierce (1996) mengatakan bahwa “penilaian otentik adalah bentuk penilaian
yang menunjukkan pembelajaran siswa yang berupa pencapaian, motivasi, dan
sikap-yang relevan dalam aktivitas kelas”. Contoh penilaian otentik termasuk di
dalamnya penilaian perfomansi (performance
assessment), portofolio (portfolios),
dan penilaian diri sendiri (student
self-assessment). Sedangkan dalam Permendikbud Nomor
66 Tahun 2013 tentang standar penilaian dinyatakan bahwa penilaian otentik
adalah penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari input (masukan), proses dan output (keluaran).
Dalam
hal ini dapat dikatakan bahwa penilaian otentik adalah keadaan yang sebenanya,
keadaan dimana siswa dinilai berdasarkan kompetensi yang benar-benar dimiliki
oleh siswa. Penilaian otentik pada dasarnya berbasis pada penilaian diri, dan merupakan
proses atau kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan untuk mengumpulkan
informasi tentang proses dan hasil belajar siswa dalam rangka membuat
keputusan-keputusan berdasarkan kriteria dan pertimbangan tertentu.
Mengapa Perlu Adanya Penilaian Otentik?
Karena
penilaian otentik bersifat personalized, natural dan fleksible. Dimana keadilan
tidak akan terjadi jika penilaian relatif seragam, diluar diri dan mutlak.
Manfaat Penilaian Otentik
1.
Memungkinkan dilakukannya pengukuran secara langsung
terhadap kinerja pembelajar sebagai indikator capain kompetensi yang
dibelajarkan;
2.
Memberikan kesempatan pembelajar untuk mengkonstruksikan
hasil belajarnya;
3.
Memungkinkan terintegrasikannya kegiatan pengajaran,
belajar, dan penilaian menjadi satu paket kegiatan yang terpadu.
Prinsip Otentik
Berdasarkan Peraturan
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia
(PERMENRISTEKDIKTI) Nomor 44 Tahun 2015 tentang standar nasional pendidikan
tinggi.
Ø Pasal 20 Ayat 1:
Prinsip penilaian mencakup
prinsip edukatif, otentik, objektif, akuntabel, dan transparan yang dilakukan
secara terintegrasi.
Ø Pasal 20 Ayat 3:
Prinsip otentik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) merupakan penilaian yang berorientasi pada proses
belajar yang berkesinambungan dan hasil belajar yang mencerminkan kemampuan
mahasiswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Proses penilaian pada
dasarnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan
bagian yang terpisah dari proses pembelajaran.
Mengembangkan
Penilaian Otentik Berarti Bahwa:
1.
Mengenal
siswa lebih dekat;
2.
Merevisi
skenario pembelajaran;
3.
Meningkatkan
kualitas hasil belajar;
4.
Meningkatkan
self-assesment siswa;
5.
Meningkatkan
self-confident siswa.
Karakteristik
Penilain Otentik
1.
Memperlihatkan
kemampuan;
2.
Lebih
fokus terhadap hal apa yang ditujukan/dikomunikasikan;
3.
Dirancang
bersama-sama guru dan siswa;
4. Memberi kesempatan yang luas
untuk menilai sendiri.
Ciri
Prinsip Penilaian Otentik
1. Memandang penilaian dan pembelajaran secara terpadu;
2. Mencerminkan masalh dunia nyata bukan hanya dunia
sekolah;
3. Menggunakan berbagai cara dan kriteria;
4.
Holistik (kompetensi
utuh merefleksikan sikap, ketrampilan, dan pengetahuan.
Prinsip
Penilaian Otentik
1.
Merupakan
bagian yang terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian yang terpisah;
2.
Harus
mencerminkan masalah dunia nyata, bukan dunia sekolah;
3.
Harus
mengukur semua asfek;
4.
Dilakukan
selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung;
5.
Menggunakan
berbagai cara dan sumber;
6. Tes merupakan salah satu alat
penilain.
Tahapan
Penilaian Otentik
1.
Tahu
atau mengenal apa yang sudah dipahami siswa;
2.
Memberikan
tugas dengan menggunakan standar berdasarkan level atau tahapannya;
3.
Identifikasikan
kriteria yang dituntut untuk menyelesaikan tugas tersebut;
4.
Membuat
rubrik penilain untuk mengukur kinerja.
Gambar
Tahapan Penilaian Otentik
Cangkupan
Penilaian Otentik
Terdapat tiga aspek yang dinilai dalam penilaian otentik,
yaitu kognitif (kepandaian), afektif (sikap), dan psikomotorik. Griffin dan
Peter (1991) mengatakan bahwa setiap aspek yang dinilai memiliki karakteristik
sendiri-sendiri dan membutuhkan bentuk penilaian yang berbeda pula.
1. Kognitif
Aspek ini berhubungan dengan pengetahuan individual
(kepandaian/pemahaman) yang ditunjukkan dengan siswa memperoleh hasil dari
pembelajaran yang telah dilakukan. Bentuk penilaian kognitif ini secara
eksplisit maupun implisit harus merepresentasikan tujuan pencapaian
pembelajaran. Biasanya tes yang dilaksanakan oleh guru dapat berupa ujian untuk
mengetahui pemahaman terhadap materi.
2. Afektif
Afektif merupakan bentuk integrasi dari
beberapa karakter, yaitu: prediksi respon baik dan tidak baik, sikap dibentuk
oleh pengalaman, dan tercermin dalam kegiatan sehari-hari. Karakteristik yang
dinilai lebih kepada sikap, norma, atitud, nilai dan emosional yang merupakan
bentuk perasaan individual.
Adapun level penilaian afektif diantaranya:
Ø Sifat
menerima (perhatian, mendengar);
Ø Sifat
merespon (terlibat, aktif, motivasi, bereaksi);
Ø Menilai
(menghargai, bisa menerima apa adanya, komitmen);
Ø Kemampuan
mengatur/mengontrol diri (inisiatif sendiri, membandingkan, menghubungkan)
Ø Karakter.
Dalam melakukan penilaian ini guru harus
cermat dan hati-hati karena skala sikap biasanya sulit ditentukan secara
objektif. Komponen penilaian sikap pada siswa meliputi emosi, konsistensi,
target/tujuan, dan ketertarikan/minat. Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan
teknik skala, metode observasi, dan respon psikologi.
Dalam penilaian secara matematis dapat
dilakukan dengan:
Ø Skala
likers: 0-4;
Ø Thurstone:
1-7;
Ø Semantic
differen: tinggi-rendah, suka-tidak suka, baik-tidak baik, tertarik-tidak
tertarik, dll.
3. Psikomotorik
Perkembangan psikomotorik juga merupakan bagian dari
ranah evaluasi yang harus diketahui oleh guru. Penilaian psikomotorik merupakan
bentuk pengukuran kemampuan fisik siswa yang meliputi otot, kemampuan bergerak,
memanipulasi objek, dan koordinasi otot syaraf. Contoh penilaian ini misalnya
pada kemampuan otot kecil (misal mengetik) atau otot besar (misal melompat).
Contoh yang termasuk aktivitas motorik seperti pendidikan fisik, menulis
tangan, membuat hasil karya kerajinan dan lain-lain. Pengetahuan guru untuk
mengenali kemampuan psikomotorik siswa sangat penting karena psikomotorik
merupakan bagian dari bentuk kecerdasan. Siswa yang mampu mengetik secara cepat
tidak hanya sekedar memiliki kemampuan menggunakan perangkat komputer secara
efisien, tetapi di dalamnya juga terintegrasi kemampuan untuk membaca dan
mengeja.
Tipe penilaian psikomotorik yang digunakan harus
mengacu pada tujuan, misalnya melalui pertanyaan di bawah ini:
Ø Apakah siswa mampu
melakukan tugas dengan baik?
Ø Apakah siswa dapat
menunjukkan penampilan terbaiknya dalam tugas tersebut?
Ø
Bagaimana penampilan seorang siswa jika dibandingkan
dengan siswa yang lain dalam kelas/bidang yang sama?
Jenis Penilaian Otentik
1. Penilaian
Kinerja
Guru dapat melakukannya dengan meminta para siswa
menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan
kriteria penyelesaiannya. Dengan menggunakan informasi ini, guru dapat
memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam bentuk laporan
naratif maupun laporan kelas.
Beberapa cara untuk penilaian berbasis kinerja:
Ø Daftar cek (checklist)
Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya
unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam
sebuah peristiwa atau tindakan;
Ø Catatan anekdot/narasi
(anecdotal/narative records)
Digunakan dengan cara guru menulis laporan narasi tentang
apa yang dilakukan oleh masing-masing siswa selama melakukan tindakan;
Ø Skala penilaian (rating
scale)
dengan menggunakan skala numerik berikut predikatnya.
Misalnya: 5 = baik sekali, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = kurang, 1 = kurang sekali;
Ø Memori atau ingatan (memory
approach)
Digunakan oleh guru dengan cara mengamati siswa
ketika melakukan sesuatu, dengan tanpa membuat catatan. Guru menggunakan
informasi dari memorinya untuk menentukan apakah siswa
sudah berhasil atau belum. Cara seperti tetap ada manfaatnya, namun tidak cukup
dianjurkan.
2. Penilaian
Proyek
Penilaian proyek berfokus pada perencanaan,
pengerjaan, dan produk proyek. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus
dilakukan oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian,
pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan. Penilaian proyek dapat
menggunakan instrumen daftar cek, skala penilaian, atau narasi. Laporan
penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau tertulis.
Beberapa cara untuk penilaian proyek:
Ø Keterampilan siswa
dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis,
memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan;
Ø Kesesuaian atau
relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan yang dibutuhkan oleh siswa;
Ø Orijinalitas atas
keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh siswa.
3. Penilaian
Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian
berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan
kemampuan siswa
dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta
didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik, hasil tes (bukan nilai),
atau informasi lain yang releban dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan
yang dituntut oleh topik atau mata pelajaran tertentu.
Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan
karya siswa
secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu.
Penilaian terutama dilakukan oleh guru, meski dapat juga oleh siswa sendiri.
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah:
Ø Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio;
Ø Guru atau guru bersama siswa menentukan jenis portofolio yang akan dibuat;
Ø Siswa, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun
portofolio pembelajaran;
Ø Guru menghimpun dan menyimpan portofolio siswa pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya;
Ø Guru menilai portofolio siswa dengan kriteria tertentu;
Ø Jika memungkinkan, guru bersama siswa membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan;
Ø Guru memberi umpan balik kepada siswa atas hasil penilaian portofolio.
4. Penilaian
Tertulis
Penilaian tertulis adalah penilaian yang
menuntut siswa memberi jawaban
secara tertulis berupa pilihan dan/atau isian. Meski konsepsi penilaian otentik muncul dari
ketidakpuasan terhadap tes tertulis yang lazim dilaksanakan pada era
sebelumnya, penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap lazim dilakukan.
Tes tertulis terdiri dari memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. Memilih
jawaban dan mensuplai jawaban. Memilih jawaban terdiri dari pilihan ganda,
pilihan benar-salah, ya-tidak, menjodohkan, dan sebab-akibat. Mensuplai jawaban
terdiri dari isian atau melengkapi, jawaban singkat atau pendek, dan uraian.
5. Penilaian
Jurnal
Jurnal merupakan wadah yang memuat hasil
refleksi berupa sebuah dokumen yang secara terus menerus bertambah dan
berkembang, dan ditulis oleh siswa
untuk mencatat setiap kemajuan. Jurnal juga merupakan catatan guru selama
proses pembelajaran yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan
kelemahan siswa yang terkait
dengan kinerja ataupun sikap dan perilaku siswa
yang dipaparkan secara deskriptif.
Teknik penilaian Jurnal dilakukan dengan
menilai hasil kumpulan catatan atau keberhasilan dalam suatu kegiatan dengan
memperhatikan beberapa aspek, yaitu: catatan dasar atau kelengkapan catatan,
ketepatan waktu, pengembangan indikator yang tinggi, sedang dan rendah,
penilaian jurnal pada criteria lainnya, dan menambahkan penilaian
untuk kriteria bersama lainnya untuk menentukan nilai total.
6. Penilaian
Lisan
Tes lisan yakni tes
yang dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara
guru dan siswa. Penilaian
lisan sering digunakan oleh guru di kelas untuk menilai siswa dengan cara memberikan beberapa pertanyaan
secara lisan dan dijawab oleh peserta didik secara lisan juga.
Penilaian lisan dapat dilakukan dengan dengan teknik:
Ø Guru melakukan
inventarisasi berbagai jenis soal yang akan diajukan kepada siswa, sehingga dapat diharapkan memiliki validitas yang
tinggi dan baik dari segi isi maupun konstruksinya;
Ø Siapkan pedoman dan
ancar-ancar jawaban bentuknya;
Ø Skor ditentukan saat
masing-masing siswa selesai dites;
Ø Tes yang diberikan
hendaknya tidak menyimpang atau berubah arah dari evaluasi menjadi diskusi;
Ø Guru tidak
diperkenankan diberikan pancingan dengan kata-kata atau kode tertentu
yang bersifat menolong;
Ø Tes lisan harus
berlangsung secara wajar. Jangan sampai menimbulkan rasa takut, gugup atau panik
di kalangan siswa;
Ø Guru mempunyai
pedoman waktu bagi siswa dalam menjawab
soal-soal atau pertanyaan pada tes lisan;
Ø Pertanyaan yang
diajukan hendaknya bervariasi;
Ø Pelaksanaan tes dilakukan
secara individual.
7.
Penilaian Praktek
Penilaian Praktek dilakukan dengan cara mengamati
kegiatan siswa dalam melakukan aktivitas
pembelajaran. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian
kompetensi atau indikator keberhasilan yang menurut siswa menunjukkan unjuk kerja, misalnya bermain peran,
memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi, menggunkan peralatan
laboratorium, mengoperasikan komputer.
8.
Penilaian Diri
Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian
yang meminta siswa
untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses, dan tingkat
pencapaian kompetensi yang dipelajarinya. Teknik penilaian diri dapat digunakan
untuk mengukur kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor.
Penilaian diri merupakan suatu metode penilaian yang
memberi kesempatan kepada siswa untuk mengambil
tanggung jawab terhadap belajar mereka sendiri. Mereka diberi kesempatan untuk
menilai pekerjaan dan kemampuan mereka sesuai dengan pengalaman yang mereka
rasakan.
Penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang
jelas dan objektif. Oleh karena itu penilaian diri oleh siswa di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah:
Ø Menentukan kompetensi
atau aspek kemampuan yang akan dinilai;
Ø Menentukan kriteria
penilaian yang akan digunakan;
Ø Merumuskan format
penilaian, dapat berupa pedoman penskoran, daftar tanda cek, atau skala
penilaian;
Ø Meminta siswa untuk melakukan penilaian diri;
Ø Guru mengkaji sampel
hasil penilaian secara acak, untuk mendorong siswa
supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif;
Ø Menyampaikan umpan
balik kepada siswa berdasarkan hasil
kajian terhadap sampel hasil penilaian yang diambil secara acak.
Contoh Penilaian Diri
Dalam Mengukur Kompetensi Afektif Pada Level Merespon
Nama:
Kelas:
Petunjuk:
isilah pertanyaan berikut dengan jujur, dengan memberikan tanda ceklis pada
kolom yang tertera disebelah pertanyaan.
No
|
Pertanyaan
|
SS
|
S
|
KD
|
TP
|
1
|
Dalam diskusi
terlibat dalam mengusulkan ide-ide untuk di diskusikan
|
||||
2
|
Saat kelompok lain mempresentasikan bahan diskusi,
aktif dalam mengajukan pertanyaan
|
||||
3
|
Memiliki rasa keingintahuan yang kuat dalam belajar
|
||||
4
|
Menanggapi pendapat saat proses pembelajaran
berlangsung
|
Keterangan:
SS :
Sangat Sering
S : Sering
KD :
Kadang-Kadang
TP : Tidak
Pernah
Pertanyaan:
1. pada saat ini patokan standar kelulusan siswa adalah USBN bukan lagi hasil UN, sekalipun begitu untuk saat ini masih melaksanakan UN juga, menurut kalian jika memang standar kelulusan saat ini adalah USBN lantas untuk apa diadakannya UN? bukankan USBN saja sudah cukup kalau memang standar kelulusan siswa adalah USBN.
Tujuan dari Un itu sendiri sebenarnya pemerintah ingin mengukur pencapaian kompetensi pelajaran secara nasional, makanya dilihatlah dari nilai UN. Namun, UN tidaklah menjadi patokan untuk kelulusan siswa karena yang tau keadaan siswa hanya sekolah .
BalasHapusok mer terima_kasih, tapi bagaimana dengan pandangan peserta didik n guru2 yang masih menganggap kalo UN itu sebagai patokan kelulusan? sehingga masih melakukan berbagai cara supaya mendapat nilai UN tinggi.
Hapussetuju dengan kak meri UN bertujuan pencapaian kompetensi pelajaran secara nasional bukan penentu kelulusan karena jika penentu kelulusan rasanya tidak sebanding dimana kelulusan hanya ditentukan dalam 4 hari
BalasHapusya itulah, terus menurut geminia jika ada wacana UN dihapuskan setuju tidak?
Hapusjika berdasarkan apa yang terjadi sekarang USBN lebih banyak persentasinya aalaha soal soal dari guru guru yang ada dalam propinsi masing masing, jadi standar nasionalnya di sesuaikan denga daerahnya masing masing, sementara uN untuk melihat bagaimana standar seluruh indonesia
BalasHapuskalau memang hanya untuk melihat standar seluruh indonesia bukankah setiap sekolah dan setiap daerah memiliki standar yang berbeda ya ka?
Hapussetuju dengan kak Meri UN tidak harus mnjdi patokan kelulusan tetapi USBN yng sebaiknya menjadi patokan kelulusan karena yang melihat siswa secaralangsung adalah guru
BalasHapusSaya sangat setuju sekali apabila USBN sebagai patokan utk kelulusan siswa krna yang tau tentang siswa yg ad d sekolah ya guru yang berada di lingkungan sekolah tersebut, dengan catatan sistemnya ujian nya harus sesuai dengan sebenarnya, dalam arti kata tidak pemberian kunci jawaban ujian kepada siswa kita.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus